Dua Filosofi Lambang NU, Pesan Kiai Azaim di Bali

Berita

Dalam acara Ngobrol Bareng yang diselelenggarakan oleh Pembantu Pengurus Pondok Pesantren Nurul Jadid (P4NJ) Badung Bali menghadirkan beberapa masyayikh diantaranya KH. Makki Maimun Wafi, KH Mukhlis Ishaq, KH. Imam Qusyairi Syam, KH Hasan Ahsan Malik, KH. Syainuri Sufyan.

“Diawal mauidzhotul hasanah Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah, Sukorejo, Situbondo KHR. Ahmad Azaim Ibrahimy menuturkan bahwa kita tidak boleh pesimis tentang persatuan.”

Kiai Azaim bercerita “bahwa asbabul wurud “dhad” nya NU itu mengapa panjang mengitari bola dunia, KH. Ridwan Abdullah mengatakan bahwa itu adalah perintah dari Hadlratussyeikh KH. Hasyim Asyari hasil dari riyadhahnya beliau. Dan gambar ini perintah beliau agar disowankan ke para masyayikh salah satunya Kiai Nawawi Sidogiri, Pasuruan.”

“Setelah sowan ke Kiai Nawawi, beliau membaca dawuh wa’tashimu bihablillahi jamian dihadapan Kiai Ridwan dengan dawuh agar ditambahkan pada gambar. Kiai Ridwan kemudian merenung tentang ayat tersebut yang pada akhirnya mendapat gambar dari hasil dawuh Kiai Nawawi Sidogiri dengan simbol tali yang longgar.”

“Falsafah dari persatuan ayat tersebut agar tidak menguatkan egonya masing-masing, karena ikhtilaf itu pasti terjadi dan tidak bisa dihindari.” Ungkap alumni Ma’had Rushaifah Sayyid Muhammad bin Alawi Al Maliki Al Makki

“Kemudian beliau melanjutkan untuk usulan nama jamiyah adalah NU yaitu Nahdlatul Ulama yang memiliki arti Kebangkitan Para Ulama dari KH. Mas Alwi Abdul Aziz, ketika ditanya para Kiai beliau menjawab dengan alasan bahwa tidak semua ulama memiliki semangat untuk bergerak bersama dalam organisasi.”

“Diakhir penutup Kiai Azaim mengatakan bahwa makna “Dhad” adalah Nabi itu sendiri, karena beliau adalah orang yang paling fasih mengucapkan “Dhad” walaupun orang arab sekalipun belum tentu fasih.” Pungkasnya. (Syah)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *