PCNU Kota Denpasar – Pengurus Majelis Wakil Cabang Denpasar Selatan melaksanakan Pengajian Akbar dalam rangka Peringatan HUT RI ke- 80 dengan tema “Doa Kebangsaan Untuk Pahlawan dan Dari Bali Untuk NKRI” bertempat di lapangan Pegok, Sesetan, Denpasar. (24/8/25)
KH. Reza Ahmad Zahid atau Gus Reza mengawali ceramahnya menyampaikan bahwa doa adalah inti daripada ibadah dan didalam shalat itu penuh dengan doa. Maka apabila seseorang berdoa dan terus berdoa, maka itu tandanya dia husnudzhan kepada Allah.” Terang Rektor Universitas Tribakti Kediri
“Husnudzhan itu ada dua, yaitu husnudzhan billah dan husnudzhan biibadillah, keduanya adalah wajib. Salah satu alamat orang itu hunudzhan kepada Allah adalah dia selalu berdoa kepada Allah walaupun doanya tidak kunjung datang ataupun belum diijabah oleh Allah.”
Kemudian beliau mengingatkan kepada para jamaah agar harus percaya kepada kekuatan doa, kekuatan bangsa indonesia merdeka ini karena doa. Doa itu senjatanya orang mukmin. Tidak ada yang mampu merubah qadha dan qadarnya kecuali berdoa kepada Allah.” Ungkap Pengasuh Pon Pes Al Mahrusiyah Lirboyo, Kediri
Kapan ijabah itu turun dari Allah? Doa itu bisa mandih (tajam) itu faktor karena yang berdoa dan yang mendoakan. Kemudian beliau menguti daripada pendapat Imam Assyafi’i yang mengatakan “barangsiapa yang ingin mendapatkan kebaikan dari Allah, maka kuncinya adalah selalu berbaik sangka kepada hamba-hambanya Allah.”
“Ada tiga prinsip yang harus dipegang dalam roda kehidupan, pertama ikhtiar, kedua tawakkal, dan ketiga adalah doa.” Tegasnya
Beliau mengingatkan lagi kepada para jamaah yang hadur “kalau disebut Aswaja adalah mereka pengikut Imam Abul Hasan Al Asyari atau mazhab Asyairah, yang merupakan anak angkat dari Imam Al Jubai pembesar Mutazilah yang digagas oleh Washil bin Atho yang keluar dari ajaran gurunya yaitu Imam Hasan Al Bashri.”
“Kita ini umat yang telah tercatat di Alquran adalah umat yang tengah-tengah, tidak kekanan tidak kekiri. Tidak ekstremis kanan yang hanya berpegangan kepada tekstual, yang mudah sekali mengkafirkan saudarnya. Berbeda dengan dirinya dianggap bidah ataupun musyrik. Tidak ekstrimis kiri, dia meninggalkan Alquran, seumpama Alquran kalau tidak sesuai akal tidak usah dipakai.” Terangnya
“Imam Abu Hanifah ketika berguru kepada Imam Hammad Al Baghdadi, satu-satunya guru yang berhadapan dengan orang-orang Mutazilah yang pada waktu itu belum terkalahkan oleh orang-orang Mutazilah. Beliau mengatakan kalau saya kalah maka orang Sunni akan menjadi korban.”
“Al Imam Abul Hasan Al Asyari beliau mengatakan menjelang wafatnya aku tidak mudah mengkafirkan orang yang mudah menghadap kakbah, karena kita itu sama menyembah kepada Guhan yang satu, semua itu terjadi akrena ada pemahaman yang berbeda kepada teks. Ini adalah prinsip Aswaja.” Pengkasnya (Syah)