Senin, 25 Agustus 2015 Pengurus Cabang Himasal (Himpunan Alumni Santri Lirboyo) Bali dan PT. Findest Cepat Sembuh menyelenggarakan Dialog Kebangsaan dengan tema “Nasionalisme Santri dalam Mempertahankan Indonesia” bertempat di Sekretariat Bersama PCNU Kota Denpasar.
Gus Reza diawal materinya beliau “merefleksikan bahwa Masyayikh Lirboyo saat itu mengirim santri yang diberangkatkan ke Surabaya sebanyak sekitar 97 orang untuk mempertahankan kemerdekaan, ketika Surabaya diduduki oleh tentara Inggris bersama pasukan sekutu yang dipimpin oleh Jenderal Mallaby.” Terangnya
“Kemudian beliau menjelaskan kepada para hadirin bahwa Himasal menjadi kepanjangan tangan santri yang ada di daerah-daerah. Himasal berisikan alumni santri Lirboyo. Saat ini Ponfok Lirboyo memiliki lebih dari 20 unit pondok pesantren, semisal PPHM Al Mahrusiyah, PP Arrisalah, PP. Albaqoroh, PP. HMQ, PP HY, PP HMC dan lain-lain.”
“Beliau mengutip bahwa Mbah Yai Anwar Manshur dawuh “sepadat apapun waktumu, kamu harus kumpul dengan alumni-alumni di wadah Himasal.” Barakahnya kumpul itu inget masa-masa dipondok seperti ngaji kitabnya, dawuh masyayikh, tujuannya juga agar jangan sampai alumni ini mengarah ke aliran lain.” Tegasnya
“20 atau 30 tahun lagi kita tidak seperti ini, tapi para pemuda kita saat inilah yang akan menjadi pemimpin kita. Maka fasilitasi anak-anak kita dengan belajar agar mereka berilmu, berakhlakul karimah, dan memiliki wawasan yang luas agar kelak mereka menjadi pemimpin kelak.”
“Mondok itu berat, akan tetapi mereka ini berada di jalan fisabilillah. Mereka yang mencari ilmu itu berada dijalan Allah, mereka memiliki potensi doa yang mustajab.” Ungkap Instruktur PMKNU
“Dalam dialog tersebut ada pertanyaan, salah satunya saat orang tua memondokan anak menghadapi kesulitan biaya. Tips beliau pertama agar tidak memanjakan putra putri dalam pengiriman dalam rangka tarbiyah (mendidik). Kedua, yang diminta anak ini realistis atau tidak, seumpama membeli kitab yang nilainya mahal benar atau tidak dikaji di pondok dan itu bisa bertanya juga kepada para alumni.” Tuturnya
“Beliau mengingatkan kepada para peserta bahwa tiga komponen ini kalau segayung bersama insyaallah sukses, yaitu pondoknya semangat, wali santrinya semangat, santrinya semangat. ” Ungkap Rektor Universitas Tribakti Lirboyo, Kediri
“Barakahnya ilmu itu dengan khidmah. Sebagaimana yang disampaikan oleh Sayyid Muhammad bin Alawi Al Maliki “tetapnya ilmu itu dengan mudzakarah, barakahnya ilmu itu dengan khidmah, dan manfaatnya ilmu dirasakan ketika mendapat ridha dari guru.” Terang Pengasuh Pon Pes Al Mahrusiyah Lirboyo, Kediri
“Diakhir pembicaraan beliau mengutip Dawuh Mbah Yai Abdul Karim Lirboyo yang dijadikan pegangan santri saat di masyarakat yaitu “santri keluar dari pondok, harus ngadep dampar” artinya mentrasfer ilmu ke masyarakat, agar ilmunya manfaat bagi orang lain.” Pungkasnya (Syah)